Akhirnya bisa datang juga ke puncak acara Seren Taun 2012 yang berlangsung di desa Adat Sindang Barang Bogor pada tanggal 15 januari 2012. Acara berlangsung mulai tanggal 11 Januari sampai puncaknya tanggal 15 Januari 2012.
Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun.Kegiatan Seren Taun sudah berlangsung pada masa Pajajaran dan berhenti ketika Pajajaran runtuh. Empat windu kemudian upacara itu hidup lagi di Sindang Barang, Kuta Batu, dan Cipakancilan. Namun akhirnya berhenti benar pada 1970-an. Setelah kegiatan ini berhenti selama 36 tahun, Seren Taun dihidupkan kembali sejak tahun 2006 di Desa Adat Sindang Barang, Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Upacara ini disebut upacara Seren Taun Guru Bumi sebagai upaya membangkitkan jati diri budaya masyarakat Sunda. (sumber Wikipedia).
Acara yang berlangsung mulai pukul 9.30 start dari depan Mesjid Sindang Barang Menuju kampung Budaya Sindang Barang. Masyarakat sudah berkumpul dan ikut berpartisipasi dalam acara ini. Banyak pendatang yang berkunjung saat itu, baik dari dalam negeri maupun wisatawan Mancanegara. kami pun datang dengan tiga rombongan ke acara ini. Setelah di lapangan semuanya pun jadi terpencar.
Inilah rombongan yang siap-siap akan berangkat.


Cikukulu (Air yang diambil dari 7 sumber mata air)

Jampana (yang beisi Pare Abah dan Pare Ambu/Indung Pare )

Perjalanan menuju Kampung Budaya Sindang Barang

Angklung Gubrag





Perjalanan menuju Kampung Budaya Sindang Barang kurang lebih satu jam. Saat itu Bogor diguyur hujan walaupun tidak terlalu deras.
Perjalanan menuju kampung Budaya sangat menyenangkan saat itu, hujan ternyata bukan halangan, arak-arakan masih terus berjalan dan juga masyarakat yang ikut serta.


Sebelah kanan adalah kokolot

Barongsai yang ikut memeriahkan acara
Sebagian masyarakat sudah berkumpul di kampung Budaya Sindang Barang.
Inilah suasana Alun-alun Kampung Budaya Sindang Barang.

suasana Alun-alun Kampung Budaya Sindang Barang ketika baru sampai

Beberapa kesenian memeriahkan acara ini

Langit Mendung kembali ^_^

Pare Abah dan Pare Ambu siap menuju leuit (tempat Padi)

Padi pengiring pare Abah dan pare Ambu

Leuit (tempat penyimpanan padi dalam bahasa Sunda)

Rumah Besar yang ditempati Sesepuh

Sesepuh bersama Istri menuju leuit

- Pembukaan salam antara kedua belah pihak, Sesepuh dan kokolot
Setelah upacara penyambutan selesai yang didahulukan adalah menyimpan pare Abah oleh Sesepuh dan pare Ambu oleh kokolot, selanjutnya baru diikuti oleh pare yang dibawa di rengkong (pikulan) untuk dimasukan ke leuit.

Upacara penyimpanan padi selesai, hujan pun turun kembali. Acara masih terus berlangsung. Selanjutnya dongdang yang telah di do’akan boleh diambil oleh siapa aja dan masyarakat sudah tidak sabar menanti acara tersebut.

Berebut Isi Dongdang
Berebut isi dongdang (tempat hantaran makanan) oleh masyarakat, baik muda ataupun tua mereka sangat bersukaria. Akhir acara sebelum adzan Dzuhur. Hujan masih turun cukup deras. Jalannya acara Seren Taun berjalan dengan lancar dan aman. Selanjutnya perjalanan kami menuju Pura Jagatkartta dan Curug Nangka. (Akan diceritakan terpisah).






